Guru Mata Pelajaran TIK Di SMAN 1 Pananawangan Kabupaten Ciamis - Jawa Barat - INDONESIA
Jumat, 03 Desember 2010
Akhirnya...
Akhirnya… Kau pun terbang. Sebenar-benarnya terbang. Sisakan serapah dan kesumat. Selamat tinggal kepalsuan! Jangan gumamkan lagi nama k
Jumat, 05 November 2010
Khidmat
Lembayung itu, menjadi saksi langkah ku yang terhuyung. Berjuta tanya menggumpal dalam renung. Namun tetap saja, gelisah dan resah kerasan dalam relung. Hingga gulita tiba, rasa ini tak juga tertata. Bayang wajah nan jelita, malah membuat angan ini meronta-ronta.
Lelah! Membuat raga terkapar saat fajar. Hati dan fikir ku jadi tuna menakar. Apakah ini pertanda ruh ku telah terjangkar ? Mentari terus merambat. Kalbu terus bermun
Senin, 18 Oktober 2010
Lupa Bukan Anak Kecil
Bangunan ini tak lebih dari mainan anak kecil. Ukurannya juga kecil, mustahil diisi apa pun. Dindingnya rapuh dan tanpa warna. Tanpa fondasi yang kuat. Reyot. Hingga semilir pun mampu mengguncangnya. Jauh dari kata sempurna. Dan aku, aku adalah anak kecil itu. Yang begitu sibuk menjaga agar bangunan itu tetap berusaha kokoh. Tidak ambruk!
Aku harus sering mengitari bangunan ini. Mengawasi setiap bagian nya. Sesekali bahkan, salah satu sisi nya harus ku tahan dengan badan ku, agar ia cukup kuat diterjang semilir. Ya, aku sibuk menjaga bangunan ini. Sibuk, hingga aku lupa, aku tumbuh dan bukan seorang anak kecil lagi.
Jumat, 08 Oktober 2010
Anak Batas
INTI CERITA :
Kisah tentang tiga orang anak SMA dari daerah perbatasan. Sejak terlahir ke dunia, jalan hidup mereka diwarnai banyak sekali “keterbatasan”. Di satu titik waktu, tumbuh keinginanan utuk mencoba melawan beragam keterbatasan yang mereka miliki. Ditemani seorang guru yang peduli, langkah ragu mereka perlahan semakin ajeg. Kesungguhan, kesabaran dan kebersamaan, ternyata pada akhirnya mampu memudarkan batas-batas yang sebelumnya terlihat begitu angkuh menjegal mimpi dan hasrat.
SINOPSIS :
Nur, Ara dan Lisna. Tiga orang siswi sebuah SMA di daerah perbatasan. Sejak lahir hidup mereka kental dengan beragam keterbatasan. “Memiliki keinginan” sepertinya dilarang untuk hinggap di benak mereka. Mereka terbiasa membunuh hasrat untuk hidup lebih baik, karena semua itu tak lebih dari sekedar mimpi. Beragam keterbatasan yang mereka kecap sejak kecil hampir-hampir membuat mereka menjadi manusia-manusia tuna cita.
“Apa yang akan dilakukan setelah lulus SMA?” Pilihan yang logis cuma ada tiga; Cari Kerja, Menikah atau Nganggur!
Bagaimana dengan kuliah? Saat seorang guru baru bertanya demikian, mereka hanya tersenyum. Wajah mereka seolah berkata, “Jangankan kuliah beneran, untuk sekedar bermimpi kuliah pun rasanya kami tak layak, kami ini anak-anak batas!” begitu jawab mereka.
Seorang guru baru datang ke sekolah mereka. Guru yang sesekali membuat hati Nur, Ara dan Lisna tiba-tiba saja ingin meronta, memutus semua temali keterbatasan yang mengikat langkah dan keinginan mereka.
Terlebih ketika Si Guru Baru berjanji akan berusaha sekuat tenaga mencari program beasiswa, baik dari pemerintah maupun dermawan. Dan ternyata, Tuhan memang selalu memberikan jalan bagi hamba-hambanya yang bersungguh-sungguh. Sebuah program beasiswa dari pemerintah pun hadir bak sebuah keajaiban bagi anak-anak batas.
Perlahan tapi pasti, mereka bermetamorfosis menjadi manusia baru. Manusia yang ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Manusia-manusia yang berhasrat, dan ingin terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada.
Sudah barang tentu jalan yang dilalui tidak mulus. Pesimisme dari orang tua mereka menjadi batu hambatan pertama yang harus dilalui. Tak mudah membuat orang tua (yang secara ekonomi lemah) menjadi yakin bahwa buah hatinya sangat mungkin bisa mengecap bangku kuliah.
Saat langkah anak-anak batas itu semakin bertambah kokoh, konflik justru terjadi di sana-sini. Guru Baru diterpa isu perselingkuhan dengan Ara, salah seorang anak batas yang tengah diupayakan mendapat beasiswa. Konflik yang dipicu seorang guru wanita yang tengah jadi korban perselingkuhan suaminya tersebut bahkan meruncing hingga ke rumah tangga Si Guru Baru.
Sementara Nur, sempat gagal meyakinkan kekasih hatinya agar merestui keinginan dia untuk kuliah. Dulu, dia sudah terlanjur berjanji siap menikah usai lulus SMA. Konflik yang Nur alami sampai-sampai harus melibatkan Kepala Sekolah untuk datang ke rumah Nur. Sementara Lisna, dia tak berayah, ibu nya pun jauh. Hidup di Desa hanya dengan kakek dan nenek yang sudah renta. Ia harus bermimpi dan melangkah sendirian.
Kisah tentang tiga orang anak SMA dari daerah perbatasan. Sejak terlahir ke dunia, jalan hidup mereka diwarnai banyak sekali “keterbatasan”. Di satu titik waktu, tumbuh keinginanan utuk mencoba melawan beragam keterbatasan yang mereka miliki. Ditemani seorang guru yang peduli, langkah ragu mereka perlahan semakin ajeg. Kesungguhan, kesabaran dan kebersamaan, ternyata pada akhirnya mampu memudarkan batas-batas yang sebelumnya terlihat begitu angkuh menjegal mimpi dan hasrat.
SINOPSIS :
Nur, Ara dan Lisna. Tiga orang siswi sebuah SMA di daerah perbatasan. Sejak lahir hidup mereka kental dengan beragam keterbatasan. “Memiliki keinginan” sepertinya dilarang untuk hinggap di benak mereka. Mereka terbiasa membunuh hasrat untuk hidup lebih baik, karena semua itu tak lebih dari sekedar mimpi. Beragam keterbatasan yang mereka kecap sejak kecil hampir-hampir membuat mereka menjadi manusia-manusia tuna cita.
“Apa yang akan dilakukan setelah lulus SMA?” Pilihan yang logis cuma ada tiga; Cari Kerja, Menikah atau Nganggur!
Bagaimana dengan kuliah? Saat seorang guru baru bertanya demikian, mereka hanya tersenyum. Wajah mereka seolah berkata, “Jangankan kuliah beneran, untuk sekedar bermimpi kuliah pun rasanya kami tak layak, kami ini anak-anak batas!” begitu jawab mereka.
Seorang guru baru datang ke sekolah mereka. Guru yang sesekali membuat hati Nur, Ara dan Lisna tiba-tiba saja ingin meronta, memutus semua temali keterbatasan yang mengikat langkah dan keinginan mereka.
Terlebih ketika Si Guru Baru berjanji akan berusaha sekuat tenaga mencari program beasiswa, baik dari pemerintah maupun dermawan. Dan ternyata, Tuhan memang selalu memberikan jalan bagi hamba-hambanya yang bersungguh-sungguh. Sebuah program beasiswa dari pemerintah pun hadir bak sebuah keajaiban bagi anak-anak batas.
Perlahan tapi pasti, mereka bermetamorfosis menjadi manusia baru. Manusia yang ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Manusia-manusia yang berhasrat, dan ingin terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada.
Sudah barang tentu jalan yang dilalui tidak mulus. Pesimisme dari orang tua mereka menjadi batu hambatan pertama yang harus dilalui. Tak mudah membuat orang tua (yang secara ekonomi lemah) menjadi yakin bahwa buah hatinya sangat mungkin bisa mengecap bangku kuliah.
Saat langkah anak-anak batas itu semakin bertambah kokoh, konflik justru terjadi di sana-sini. Guru Baru diterpa isu perselingkuhan dengan Ara, salah seorang anak batas yang tengah diupayakan mendapat beasiswa. Konflik yang dipicu seorang guru wanita yang tengah jadi korban perselingkuhan suaminya tersebut bahkan meruncing hingga ke rumah tangga Si Guru Baru.
Sementara Nur, sempat gagal meyakinkan kekasih hatinya agar merestui keinginan dia untuk kuliah. Dulu, dia sudah terlanjur berjanji siap menikah usai lulus SMA. Konflik yang Nur alami sampai-sampai harus melibatkan Kepala Sekolah untuk datang ke rumah Nur. Sementara Lisna, dia tak berayah, ibu nya pun jauh. Hidup di Desa hanya dengan kakek dan nenek yang sudah renta. Ia harus bermimpi dan melangkah sendirian.
Kamis, 02 September 2010
Karena Dia Tak Mencintai Mu
Ya! Jelas-jelas aku bukan dia. Meski ingin ku sebesar semesta, aku tetap saja bukan dia. Hanya karena bibir indah dan suara merdu mu mengeja nama nya, seraya mengumbar sejuta asa, tiba-tiba saja aku ingin menjadi dia.
Lalu, aku ingin bertanya pada mu. Bagaimana dengan mu? Apakah kau ingin aku menjadi dia? Dia yang jelas-jelas tidak berharap atas hadir mu. Setidaknya tidak sebesar harap ku. Dia yang jelas-jelas tak merindukan mu. Dia yang tak khidmat atas mu. Dia yang jelas-jelas tak menyambut gebu cinta mu. Haruskah aku menjadi dia ?!
Persetan ! Mungkin itu ucap mu untuk ku. Kau tak peduli tanya ku. Tak peduli semua tentang ku. Karena aku bukan dia. Karena hanya dia yang ada di benak mu.
Tapi sebentar, biarkan aku menerka. Kau ingin dia menjadi aku, kan? aku yang begitu khusyu atas mu. Yang begitu berpeluh sekedar demi setitik cinta mu. Aku yang teramat sibuk karena mu. Aku yang begitu menyanjung mu. Benar, kan?
Ah, tapi tetap saja aku bukan dia. Hingga setengah sekarat, ku seret kaki rapuh ini, untuk terus mencoba yakinkan diri mu. Sejuta khidmat ku, hanya untuk mu! Begitu ujar ku. Tapi tetap saja, kau bukan dia! Mungkin begitu balas mu. Sepertinya, lautan cinta yang ku pungut dari setiap embun pagi, tak kan pernah seharga kehadiran dia dalam dekap mu.
Sayang… Aku memang bukan dia. Dan, aku tak ingin menjadi dia. Karena dia tak mencinta mu!
Lalu, aku ingin bertanya pada mu. Bagaimana dengan mu? Apakah kau ingin aku menjadi dia? Dia yang jelas-jelas tidak berharap atas hadir mu. Setidaknya tidak sebesar harap ku. Dia yang jelas-jelas tak merindukan mu. Dia yang tak khidmat atas mu. Dia yang jelas-jelas tak menyambut gebu cinta mu. Haruskah aku menjadi dia ?!
Persetan ! Mungkin itu ucap mu untuk ku. Kau tak peduli tanya ku. Tak peduli semua tentang ku. Karena aku bukan dia. Karena hanya dia yang ada di benak mu.
Tapi sebentar, biarkan aku menerka. Kau ingin dia menjadi aku, kan? aku yang begitu khusyu atas mu. Yang begitu berpeluh sekedar demi setitik cinta mu. Aku yang teramat sibuk karena mu. Aku yang begitu menyanjung mu. Benar, kan?
Ah, tapi tetap saja aku bukan dia. Hingga setengah sekarat, ku seret kaki rapuh ini, untuk terus mencoba yakinkan diri mu. Sejuta khidmat ku, hanya untuk mu! Begitu ujar ku. Tapi tetap saja, kau bukan dia! Mungkin begitu balas mu. Sepertinya, lautan cinta yang ku pungut dari setiap embun pagi, tak kan pernah seharga kehadiran dia dalam dekap mu.
Sayang… Aku memang bukan dia. Dan, aku tak ingin menjadi dia. Karena dia tak mencinta mu!
Sabtu, 07 Agustus 2010
Puisi Untuk Buah Hati
Senja di sebuah pesisir
Saat jemari samudera silih berganti menjamah bumi
Lalu kembali ke laut tak bertepi
Mengantar kembali sang mentari
Saat jemari samudera silih berganti menjamah bumi
Lalu kembali ke laut tak bertepi
Mengantar kembali sang mentari
Alam khusyu
Temani keterpakuanku
Menyapa setiap ufuk
Menawar hati berkabut rindu
Atas rindu tak tertahankan
Ruh ku berontak pada jasad
Teriaknya keras memecah terawang
Ayo Pulang!
Temani keterpakuanku
Menyapa setiap ufuk
Menawar hati berkabut rindu
Atas rindu tak tertahankan
Ruh ku berontak pada jasad
Teriaknya keras memecah terawang
Ayo Pulang!
Jasadku terdiam, kaku!
Bukan tak rindu,
Bukan tak setuju,
Tapi karena hanya itu yang ia mampu
Bukan tak rindu,
Bukan tak setuju,
Tapi karena hanya itu yang ia mampu
Ruh ku membakar asa
Ingat bibir mungilnya!
Tidakkah kau rindu damai peluknya?!
Atau tangisnya saat memanggil Ayah?!
Ingat bibir mungilnya!
Tidakkah kau rindu damai peluknya?!
Atau tangisnya saat memanggil Ayah?!
Ketakberdayaanku pun maujud
Meleleh dari sudut pelupuk
Menjelma setajam seribu sembilu
Mengiris perih angkuh kalbu
Meleleh dari sudut pelupuk
Menjelma setajam seribu sembilu
Mengiris perih angkuh kalbu
Lalu apologi picisan terujar
Andai aku bermuwajahah segera
Bukan lagi jurang jarak yang menganga
Namun lembah alam yang kan memangsa
Andai aku bermuwajahah segera
Bukan lagi jurang jarak yang menganga
Namun lembah alam yang kan memangsa
Mulut sang ruh pun tertutup, bisu!
Kau benar, aku setuju
Tak kan ku biarkan kau terbujur kaku
Tanpa selimut restu buah hati mu
Kau benar, aku setuju
Tak kan ku biarkan kau terbujur kaku
Tanpa selimut restu buah hati mu
Aku rebah di atas pepasir
Menggantung janji di tiang langit
Nak, Ayah pasti kembali
Seperti mentari di senja ini
Menggantung janji di tiang langit
Nak, Ayah pasti kembali
Seperti mentari di senja ini
Kamis, 05 Agustus 2010
Surat Cinta Saat Muda (Heu..Heu... Heu..)
…
Aku tak berlalu atas mimpi
Meski diri dipaksa pergi
Jika sungguh kau terancam mati
Hampiri nyawaku sebagai pengganti
…
Aku tak berlalu atas mimpi
Meski diri dipaksa pergi
Jika sungguh kau terancam mati
Hampiri nyawaku sebagai pengganti
…
Sang Putri yang aku sayangi seharga mati, entah –sementara atau selamanya— kini kita terpisah. Semoga lebih banyak tapak cinta dari benci, menghiasi perjalanan melelahkan ini. Satu hal yang ingin ku tegaskan, meski aku tak yakin ini masih cukup berarti bagi mu, bahwa hanya akan ada nama mu di relung hati ku. Sampai kapanpun, nama mu akan menjadi pemilik singgasana hati ku. Sampai kapanpun, nama mul ah yang akan selalu ku ukir di setiap titik hati. Andai, sekali lagi andai karena aku tak sepenuhnya yakin kau akan mengalami hal ini, andai hidupmu benar-benar tersandar pada cintaku yang faqir ini, hingga kau terancam mati, hampiri aku kapan pun kau sudi. Semoga, semoga masih kau dapati hela di jasad rapuh ini.
Aku tahu, sekarang kau semakin awas memandang realitas. Aku tak akan pernah lupa ujaranmu, bahwa kau tak akan pernah lagi memohon cintaku, meski kau akan tetap berdiri di titik janji, sebuah paradoks yang setidaknya bagiku, entah bagimu, keunikannya begitu dahsyat.
Sayang, apa arti cinta ini, seberapa bermaknakah ia, jika tak ada lagi yang memohon atasn ya? Jawab sayang. Sungguh tak ada artinya peluh cinta ini. Harusnya aku tersadar lebih awal, atas maksud yang kau sisipkan di balik kata yang kau ujar itu.
Aku tahu, sekarang kau semakin awas memandang realitas. Aku tak akan pernah lupa ujaranmu, bahwa kau tak akan pernah lagi memohon cintaku, meski kau akan tetap berdiri di titik janji, sebuah paradoks yang setidaknya bagiku, entah bagimu, keunikannya begitu dahsyat.
Sayang, apa arti cinta ini, seberapa bermaknakah ia, jika tak ada lagi yang memohon atasn ya? Jawab sayang. Sungguh tak ada artinya peluh cinta ini. Harusnya aku tersadar lebih awal, atas maksud yang kau sisipkan di balik kata yang kau ujar itu.
Sayang, akupun tak berhak, bahkan tak kuasa lagi untuk terus menyeret kedua kaki mu agar selalu bersisian denganku. Aku sadar ini berat bagi ku, mungkin juga untuk mu, tapi aku lelah sekarat. Insya Alloh aku ikhlas melepasmu terbang, sebenar-benarnya terbang.
Atas prasangka, lisan dan sikap tak berkenan, ku mohon ampun mu, juga doa-doa tulus mu.
Andai masih boleh berharap, aku ingin, bersamaku atau tidak, kau tetap berjuang wujudkan sholehat. Kau juga harus sehat. Untuk hal ini, meski jujur aku kerap dilingkupi khawatir, aku hanya mencoba menenangkan diri dengan mengingat ucapmu, tak perlu khawatir, karena kau, “Adalah orang yang mencintai diri”.
Andai masih boleh berharap, aku ingin, bersamaku atau tidak, kau tetap berjuang wujudkan sholehat. Kau juga harus sehat. Untuk hal ini, meski jujur aku kerap dilingkupi khawatir, aku hanya mencoba menenangkan diri dengan mengingat ucapmu, tak perlu khawatir, karena kau, “Adalah orang yang mencintai diri”.
Doaku selalu kulantunkan untuk kebaikanmu.
Melambat & Cepat
12.00 (makan siang)
…
Dering itu membuat detak kembali terasa melambat. Lain seperti tadi, detik-detik seperti berlarian, sangat cepat! Secepat suara langkah mu meninggalkan ku, bergegas hampiri pengirim dering.
Dering itu membuat detak kembali terasa melambat. Lain seperti tadi, detik-detik seperti berlarian, sangat cepat! Secepat suara langkah mu meninggalkan ku, bergegas hampiri pengirim dering.
Langganan:
Postingan (Atom)