Guru Mata Pelajaran TIK Di SMAN 1 Pananawangan Kabupaten Ciamis - Jawa Barat - INDONESIA

Sabtu, 07 Agustus 2010

Puisi Untuk Buah Hati


Senja di sebuah pesisir
Saat jemari samudera silih berganti menjamah bumi
Lalu kembali ke laut tak bertepi
Mengantar kembali sang mentari
Alam khusyu
Temani keterpakuanku
Menyapa setiap ufuk
Menawar hati berkabut rindu

Atas rindu tak tertahankan
Ruh ku berontak pada jasad
Teriaknya keras memecah terawang
Ayo Pulang!
Jasadku terdiam, kaku!
Bukan tak rindu,
Bukan tak setuju,
Tapi karena hanya itu yang ia mampu
Ruh ku membakar asa
Ingat bibir mungilnya!
Tidakkah kau rindu damai peluknya?!
Atau tangisnya saat memanggil Ayah?!
Ketakberdayaanku pun maujud
Meleleh dari sudut pelupuk
Menjelma setajam seribu sembilu
Mengiris perih angkuh kalbu
Lalu apologi picisan terujar
Andai aku bermuwajahah segera
Bukan lagi jurang jarak yang menganga
Namun lembah alam yang kan memangsa
Mulut sang ruh pun tertutup, bisu!
Kau benar, aku setuju
Tak kan ku biarkan kau terbujur kaku
Tanpa selimut restu buah hati mu
Aku rebah di atas pepasir
Menggantung janji di tiang langit
Nak, Ayah pasti kembali
Seperti mentari di senja ini

Kamis, 05 Agustus 2010

Surat Cinta Saat Muda (Heu..Heu... Heu..)



Aku tak berlalu atas mimpi
Meski diri dipaksa pergi
Jika sungguh kau terancam mati
Hampiri nyawaku sebagai pengganti
Sang Putri yang aku sayangi seharga mati, entah –sementara atau selamanya— kini kita terpisah. Semoga lebih banyak tapak cinta dari benci, menghiasi perjalanan melelahkan ini. Satu hal yang ingin ku tegaskan, meski aku tak yakin ini masih cukup berarti bagi mu, bahwa hanya akan ada nama mu di relung hati ku. Sampai kapanpun, nama mu akan menjadi pemilik singgasana hati ku. Sampai kapanpun, nama mul ah yang akan selalu ku ukir di setiap titik hati. Andai, sekali lagi andai karena aku tak sepenuhnya yakin kau akan mengalami hal ini, andai hidupmu benar-benar tersandar pada cintaku yang faqir ini, hingga kau terancam mati, hampiri aku kapan pun kau sudi. Semoga, semoga masih kau dapati hela di jasad rapuh ini.

Aku tahu, sekarang kau semakin awas memandang realitas. Aku tak akan pernah lupa ujaranmu, bahwa kau tak akan pernah lagi memohon cintaku, meski kau akan tetap berdiri di titik janji, sebuah paradoks yang setidaknya bagiku, entah bagimu, keunikannya begitu dahsyat.
Sayang, apa arti cinta ini, seberapa bermaknakah ia, jika tak ada lagi yang memohon atasn ya? Jawab sayang. Sungguh tak ada artinya peluh cinta ini. Harusnya aku tersadar lebih awal, atas maksud yang kau sisipkan di balik kata yang kau ujar itu.
Sayang, akupun tak berhak, bahkan tak kuasa lagi untuk terus menyeret kedua kaki mu agar selalu bersisian denganku. Aku sadar ini berat bagi ku, mungkin juga untuk mu, tapi aku lelah sekarat. Insya Alloh aku ikhlas melepasmu terbang, sebenar-benarnya terbang.
Atas prasangka, lisan dan sikap tak berkenan, ku mohon ampun mu, juga doa-doa tulus mu.
Andai masih boleh berharap, aku ingin, bersamaku atau tidak, kau tetap berjuang wujudkan sholehat. Kau juga harus sehat. Untuk hal ini, meski jujur aku kerap dilingkupi khawatir, aku hanya mencoba menenangkan diri dengan mengingat ucapmu, tak perlu khawatir, karena kau, “Adalah orang yang mencintai diri”.
Doaku selalu kulantunkan untuk kebaikanmu.

Melambat & Cepat


12.00 (makan siang)

Dering itu membuat detak kembali terasa melambat. Lain seperti tadi, detik-detik seperti berlarian, sangat cepat! Secepat suara langkah mu meninggalkan ku, bergegas hampiri pengirim dering.