Senja di sebuah pesisir
Saat jemari samudera silih berganti menjamah bumi
Lalu kembali ke laut tak bertepi
Mengantar kembali sang mentari
Saat jemari samudera silih berganti menjamah bumi
Lalu kembali ke laut tak bertepi
Mengantar kembali sang mentari
Alam khusyu
Temani keterpakuanku
Menyapa setiap ufuk
Menawar hati berkabut rindu
Atas rindu tak tertahankan
Ruh ku berontak pada jasad
Teriaknya keras memecah terawang
Ayo Pulang!
Temani keterpakuanku
Menyapa setiap ufuk
Menawar hati berkabut rindu
Atas rindu tak tertahankan
Ruh ku berontak pada jasad
Teriaknya keras memecah terawang
Ayo Pulang!
Jasadku terdiam, kaku!
Bukan tak rindu,
Bukan tak setuju,
Tapi karena hanya itu yang ia mampu
Bukan tak rindu,
Bukan tak setuju,
Tapi karena hanya itu yang ia mampu
Ruh ku membakar asa
Ingat bibir mungilnya!
Tidakkah kau rindu damai peluknya?!
Atau tangisnya saat memanggil Ayah?!
Ingat bibir mungilnya!
Tidakkah kau rindu damai peluknya?!
Atau tangisnya saat memanggil Ayah?!
Ketakberdayaanku pun maujud
Meleleh dari sudut pelupuk
Menjelma setajam seribu sembilu
Mengiris perih angkuh kalbu
Meleleh dari sudut pelupuk
Menjelma setajam seribu sembilu
Mengiris perih angkuh kalbu
Lalu apologi picisan terujar
Andai aku bermuwajahah segera
Bukan lagi jurang jarak yang menganga
Namun lembah alam yang kan memangsa
Andai aku bermuwajahah segera
Bukan lagi jurang jarak yang menganga
Namun lembah alam yang kan memangsa
Mulut sang ruh pun tertutup, bisu!
Kau benar, aku setuju
Tak kan ku biarkan kau terbujur kaku
Tanpa selimut restu buah hati mu
Kau benar, aku setuju
Tak kan ku biarkan kau terbujur kaku
Tanpa selimut restu buah hati mu
Aku rebah di atas pepasir
Menggantung janji di tiang langit
Nak, Ayah pasti kembali
Seperti mentari di senja ini
Menggantung janji di tiang langit
Nak, Ayah pasti kembali
Seperti mentari di senja ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar