INTI CERITA :
Kisah tentang tiga orang anak SMA dari daerah perbatasan. Sejak terlahir ke dunia, jalan hidup mereka diwarnai banyak sekali “keterbatasan”. Di satu titik waktu, tumbuh keinginanan utuk mencoba melawan beragam keterbatasan yang mereka miliki. Ditemani seorang guru yang peduli, langkah ragu mereka perlahan semakin ajeg. Kesungguhan, kesabaran dan kebersamaan, ternyata pada akhirnya mampu memudarkan batas-batas yang sebelumnya terlihat begitu angkuh menjegal mimpi dan hasrat.
SINOPSIS :
Nur, Ara dan Lisna. Tiga orang siswi sebuah SMA di daerah perbatasan. Sejak lahir hidup mereka kental dengan beragam keterbatasan. “Memiliki keinginan” sepertinya dilarang untuk hinggap di benak mereka. Mereka terbiasa membunuh hasrat untuk hidup lebih baik, karena semua itu tak lebih dari sekedar mimpi. Beragam keterbatasan yang mereka kecap sejak kecil hampir-hampir membuat mereka menjadi manusia-manusia tuna cita.
“Apa yang akan dilakukan setelah lulus SMA?” Pilihan yang logis cuma ada tiga; Cari Kerja, Menikah atau Nganggur!
Bagaimana dengan kuliah? Saat seorang guru baru bertanya demikian, mereka hanya tersenyum. Wajah mereka seolah berkata, “Jangankan kuliah beneran, untuk sekedar bermimpi kuliah pun rasanya kami tak layak, kami ini anak-anak batas!” begitu jawab mereka.
Seorang guru baru datang ke sekolah mereka. Guru yang sesekali membuat hati Nur, Ara dan Lisna tiba-tiba saja ingin meronta, memutus semua temali keterbatasan yang mengikat langkah dan keinginan mereka.
Terlebih ketika Si Guru Baru berjanji akan berusaha sekuat tenaga mencari program beasiswa, baik dari pemerintah maupun dermawan. Dan ternyata, Tuhan memang selalu memberikan jalan bagi hamba-hambanya yang bersungguh-sungguh. Sebuah program beasiswa dari pemerintah pun hadir bak sebuah keajaiban bagi anak-anak batas.
Perlahan tapi pasti, mereka bermetamorfosis menjadi manusia baru. Manusia yang ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Manusia-manusia yang berhasrat, dan ingin terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada.
Sudah barang tentu jalan yang dilalui tidak mulus. Pesimisme dari orang tua mereka menjadi batu hambatan pertama yang harus dilalui. Tak mudah membuat orang tua (yang secara ekonomi lemah) menjadi yakin bahwa buah hatinya sangat mungkin bisa mengecap bangku kuliah.
Saat langkah anak-anak batas itu semakin bertambah kokoh, konflik justru terjadi di sana-sini. Guru Baru diterpa isu perselingkuhan dengan Ara, salah seorang anak batas yang tengah diupayakan mendapat beasiswa. Konflik yang dipicu seorang guru wanita yang tengah jadi korban perselingkuhan suaminya tersebut bahkan meruncing hingga ke rumah tangga Si Guru Baru.
Sementara Nur, sempat gagal meyakinkan kekasih hatinya agar merestui keinginan dia untuk kuliah. Dulu, dia sudah terlanjur berjanji siap menikah usai lulus SMA. Konflik yang Nur alami sampai-sampai harus melibatkan Kepala Sekolah untuk datang ke rumah Nur. Sementara Lisna, dia tak berayah, ibu nya pun jauh. Hidup di Desa hanya dengan kakek dan nenek yang sudah renta. Ia harus bermimpi dan melangkah sendirian.
Kisah tentang tiga orang anak SMA dari daerah perbatasan. Sejak terlahir ke dunia, jalan hidup mereka diwarnai banyak sekali “keterbatasan”. Di satu titik waktu, tumbuh keinginanan utuk mencoba melawan beragam keterbatasan yang mereka miliki. Ditemani seorang guru yang peduli, langkah ragu mereka perlahan semakin ajeg. Kesungguhan, kesabaran dan kebersamaan, ternyata pada akhirnya mampu memudarkan batas-batas yang sebelumnya terlihat begitu angkuh menjegal mimpi dan hasrat.
SINOPSIS :
Nur, Ara dan Lisna. Tiga orang siswi sebuah SMA di daerah perbatasan. Sejak lahir hidup mereka kental dengan beragam keterbatasan. “Memiliki keinginan” sepertinya dilarang untuk hinggap di benak mereka. Mereka terbiasa membunuh hasrat untuk hidup lebih baik, karena semua itu tak lebih dari sekedar mimpi. Beragam keterbatasan yang mereka kecap sejak kecil hampir-hampir membuat mereka menjadi manusia-manusia tuna cita.
“Apa yang akan dilakukan setelah lulus SMA?” Pilihan yang logis cuma ada tiga; Cari Kerja, Menikah atau Nganggur!
Bagaimana dengan kuliah? Saat seorang guru baru bertanya demikian, mereka hanya tersenyum. Wajah mereka seolah berkata, “Jangankan kuliah beneran, untuk sekedar bermimpi kuliah pun rasanya kami tak layak, kami ini anak-anak batas!” begitu jawab mereka.
Seorang guru baru datang ke sekolah mereka. Guru yang sesekali membuat hati Nur, Ara dan Lisna tiba-tiba saja ingin meronta, memutus semua temali keterbatasan yang mengikat langkah dan keinginan mereka.
Terlebih ketika Si Guru Baru berjanji akan berusaha sekuat tenaga mencari program beasiswa, baik dari pemerintah maupun dermawan. Dan ternyata, Tuhan memang selalu memberikan jalan bagi hamba-hambanya yang bersungguh-sungguh. Sebuah program beasiswa dari pemerintah pun hadir bak sebuah keajaiban bagi anak-anak batas.
Perlahan tapi pasti, mereka bermetamorfosis menjadi manusia baru. Manusia yang ingin memiliki masa depan yang lebih baik. Manusia-manusia yang berhasrat, dan ingin terlepas dari berbagai keterbatasan yang ada.
Sudah barang tentu jalan yang dilalui tidak mulus. Pesimisme dari orang tua mereka menjadi batu hambatan pertama yang harus dilalui. Tak mudah membuat orang tua (yang secara ekonomi lemah) menjadi yakin bahwa buah hatinya sangat mungkin bisa mengecap bangku kuliah.
Saat langkah anak-anak batas itu semakin bertambah kokoh, konflik justru terjadi di sana-sini. Guru Baru diterpa isu perselingkuhan dengan Ara, salah seorang anak batas yang tengah diupayakan mendapat beasiswa. Konflik yang dipicu seorang guru wanita yang tengah jadi korban perselingkuhan suaminya tersebut bahkan meruncing hingga ke rumah tangga Si Guru Baru.
Sementara Nur, sempat gagal meyakinkan kekasih hatinya agar merestui keinginan dia untuk kuliah. Dulu, dia sudah terlanjur berjanji siap menikah usai lulus SMA. Konflik yang Nur alami sampai-sampai harus melibatkan Kepala Sekolah untuk datang ke rumah Nur. Sementara Lisna, dia tak berayah, ibu nya pun jauh. Hidup di Desa hanya dengan kakek dan nenek yang sudah renta. Ia harus bermimpi dan melangkah sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar