Cerita singkat ini nyata, terjadi pada saat awal bulan desember 2010. Sekitar pukul satu siang, saya melihat seorang siswa kelas X bermuka masam sembari sedikit menggerutu. Saat saya tanya kenapa, ia langsung curhat. “Kesal, Pak. Disuruh sama senior buat beli sesuatu untuk keperluan acara OSIS.” Saya menjawab, “Lho, barangkali itu bagian dari tugas mu di OSIS?” Dia kembali menjawab, “Ia sih, Pak. Tapi lagi males.”
Tiga hari kemudian, sekitar pukul 14.30, saya kembali melihat siswa tersebut. Saat itu tengah hujan deras. Badan dia kuyup. Tangannya memegang kantong plastik hitam. Wajahnya tidak muram seperti sebelumnya. Kini ia ceria. Saya bertanya, “Darimana?” Dia menjawab, “Udah beli mie ayam, Pak,” jawabnya ceria. “Tukang mie ayam kan jauh, apalagi hujan deras. Kok kamu ceria? Dua hari lalu disuruh ke toko depan sekolah saja kamu menggerutu,” tanya saya sedikit penasaran. “Ahh, Bapak. Biasa, Pak,” jawabnya tak jelas.
Saya masih penasaran. Apa yang membuat dia ceria, padahal kalau dibandingkan dengan tugas pertama, tugas membeli mie ayam ke pasar dalam kondisi hujan deras jelas lebih berat. Usut punya usut, ternyata sebungkus mie ayam tersebut sengaja ia beli sebagai hadiah kecil untuk pacarnya yang kebetulan berulang tahun hari itu.
“Hmm, ternyata cinta bisa membasmi keluh kesah,” pikir saya saat itu.
***
Sadar atau tidak, mengeluh, menjadi hal yang semakin terbiasa kita lakukan. Tak peduli apa status sosial kita. Mulai dari penganggur, buruh kecil, petani, aparat, pejabat, semuanya terbiasa mengeluh. Tak terkecuali juga para guru, kalangan profesional yang mengemban misi mulia untuk melahirkan generasi penerus yang tangguh, justru malah ikut-ikutan terbiasa mengeluh.
Sebagian guru mengeluh karena seabrek tugas adminstratif. Mulai dari silabus, pemetaan SKKD, penentuan KKM, RPP, kisi-kisi, analisis butir soal, dan kewajiban administratif lainnya, yang pada faktanya memang menguras waktu dan energi. Mungkin wajar mereka mengeluh. Karena alih-alih punya waktu yang leluasa untuk mengembangkan wawasan keilmuan yang diampunya, seorang guru di zaman ini lebih sibuk mempelajari format-format admistrasi pengajaran yang faktanya tak henti berubah-ubah.
Guru yang masih berstatus sukwan, guru bantu, honorer atau sejenisnya, barangkali cukup pantas juga jika gemar mengeluh. Ada yang sudah belasan tahun mengajar, tapi statusnya masih saja sukwan. Padahal kewajiban yang harus dia penuhi sebanding dengan mereka yang sudah berstatus pegawai negeri sipil. Sekalinya ada peluang, tak sedikit yang dipusingkan oleh ulah mafianisme atau oknumisme.
Sementara guru yang “senior”, kesibukannya ditambah dengan mengurusi makhluk berjuluk sertifikasi. Imbalan sertifikasi memang lumayan menggiurkan, namun tentunya harus diraih dengan energi dan waktu yang ekstra. Mungkin karena itu, saat menjalani proses sertifikasi, para “senior” pun tak jarang mengeluh. Terlebih ketika pencairan imbalannya ternyata kadang terkatung-katung.
Saat para “senior” menikmati buah sertifikasi, giliran para “junior” mengeluh, iri barangkali. Maklum, pada faktanya sertifikasi ini sulit menerima nuansa kompetisi, tapi lebih disetting untuk antri. Yang muda belakangan, yang sudah menjelang pensiun silahkan duluan.
Agar tak terlalu banyak bicara, para “junior” kemudian diberi “pangrepeh” berlabel tunjangan fungsional. Tapi meski sudah diberi “pangrepeh”, apakah mereka berhentikah mengeluh? Ternyata tidak. Tetap saja masih mengeluh, misalnya hanya gara-gara pencairan yang tak jelas tanggal mainnya. Keluhan tersebut semakin merebak ketika di beberapa kota tetangga ternyata rapel tunjangan sudah cair. Saat keluhan tersebut disampaikan ke pihak berwenang, jawabannya sederhana: “kalau begitu, pindah saja tugasnya ke kota tetangga”. Walhasil, keluhan yang dikemukakan bukan berbuas solusi, tapi malah membidani keluhan baru.
Mengapa kita, para guru, pandai mengeluh? Padahal di dada kita lah beragam label terhormat disemat. Sebut saja misalnya istilah “pahlawan tanpa tanda jasa”, atau “penerus para nabi”. Mengapa? Padahal di pundak kita jua lah tugas mulia diemban: demi melahirkan generasi yang tangguh. Tidak saja generasi yang memiliki kapasitas dalam hal duniawi, tapi juga ukhrowi! Sungguh mustahil kita mampu melahirkan generasi penerus yang tangguh, jika kita sebagai guru nya, semakin hari malah semakin pandai mengeluh.
Jika setiap guru ditanya kenapa sering mengeluh, jumlah jawaban bukan mustahil akan sama dengan jumlah kepala. Setiap guru boleh jadi punya alasan yang berbeda. Terlebih jika dikorelasikan dengan sistem pendidikan yang kompleks dan terkesan terus menerus dalam status “belajar”. Masalahnya bisa sangat sulit diurai.
Berkaca dari cerita singkat pada awal tulisan ini, apa mungkin kita menjadi gemar mengeluh karena faktor cinta? Rasa cinta pada profesi kita sebagai guru lemah, sehingga semua tugas dan kewajiban terasa berat. Situasi inilah yang kemduain melahirkan embrio keluh kesah.
Memangnya apa yang dimaksud dengan cinta? Sudahlah, tidak usah sibuk memikirkan apa itu definisi cinta. Mungkin tak ada salahnya jika saat ini kita mengikuti pendapat seorang Jalaluddin Rumi, yang mengajak kita menyerah jika harus mendefinisikan apa itu cinta.
Barangkali pertanyaan yang lebih kontekstual pada tulisan ini adalah, benarkah kekuatan cinta bisa meredam kegemaran kita berkeluh kesah? Ya. Setidaknya begitulah kata Fromm, seorang psikoanalis berkebangsaan Jerman. Dia adalah salah seorang murid tokoh sohor di bidang psikoanalis, Sigmund Freud.
Permasalahannya kemudian adalah, bagaimana caranya agar kita, para guru yang sudah hampir kehilangan cinta ini, bisa menumbuhkan kembali perasaan mulia tersebut?
Masih menurut Fromm, ada empat unsur yang harus bisa membangun kekuatan cinta. Menurut psikolog jebolan University of Frankfurt am Main tersebut, jika keempat unsur ini terbangun, maka kekuatan cinta akan maujud.
Unsur yang pertama adalah Care (kepedulian). Setiap guru harus memiliki kepedulian pada semua hal yang terkait dengan profesinya sebagai guru. Sudahkah kita cukup peduli pada siswa yang secara ekonomi lemah? Atau bahkan pada siswa kita yang bengal? Atau pada siswa kita yang daya interpretasinya di bawah rata-rata? Sebagai guru, kita harus terus membangun rasa kepedulian tersebut. Sebaliknya, sikap apatis akan semakin mengekangkan diri kita pada kebiasaan berkeluh kesah dan membelenggu hati.
Unsur yang kedua adalah Responsibility (tanggung jawab). Cinta sejatinya mewujud dalam sikap bertanggung jawab terhadap objek yang dicintai. Harus disadari dengan benar, tanggung jawab utama kita sebagai guru adalah mengajar dan mendidik anak-anak bangsa, demi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Setidaknya, jalankan tanggung jawab ini demi kehidupan anak cucu kita kelak. Kita lah yang bertanggung jawab untuk melahirkan generasi yang unggul itu. Kita lah yang bertanggung jawab menciptakan masa depan yang lebih baik. Bukan yang lain!
Unsur ketiga adalah Respect (hormat). Menghormati bermakna menghargai. Sudah sepatutnya mensyukuri berbagai kelebihan yang ada pada profesi kita sebagai guru (status sosial, gaji, honor, tunjangan, dsb.). Teramat banyak status dan profesi lain yang tidak “seberuntung guru”. Sementara kekurangannya, mari kita terima dan perbaiki bersama. Tak perlu mengeluh, karena tak ada hal yang sempurna di muka bumi ini.
Unsur yang terakhir adalah Knowledge (pengetahuan). Hampir mustahil kita bisa mencintai sesuatu jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang objek yang kita cintai. Sebagai guru, kita harus mengetahui berbagai tugas dan fungsi, termasuk dampak negatif yang bisa muncul tatkala kita tidak menjalankan tugas dan fungsi tersebut secara profesional. Masa depan bangsa ini di ambang kehancuran, jika kita sebagai guru gagal melahirkan generasi yang unggul. Para pejabat akan di masa yang akan datang akan korup, jika kita gagal menjalankan tugas sebagai guru.
Boleh percaya atau tidak, menurut Fromm, cinta bukan lah sesuatu yang berbau mistis atau misteri. Justru menurutnya, cinta merupakan sebuah keterampilan yang bisa dicerna secara logis dan bisa dikembangkan.
Dengan kata lain, kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan harus terus dibangun dalam diri kita, sehingga pada akhirnya bisa membidani lahirnya rasa cinta kita pada profesi kita sebagai guru. Dan pada saat itu, kita sudah terbebas dari belenggu keluh dan kesah, karena cinta akan membuat semua itu menjadi ringan. Bahkan Rasululloh mengaitkan rasa cinta dengan kapasitas iman seseorang. “Belum sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” “Cintai oleh mu yang ada di muka bumi, pasti Alloh akan mencintai mu.” Kalau Alloh sudah mencintai, masih adakah hal sulit di dunia ini?
Mari menjadi guru penuh cinta. Bukan guru yang pandai mengeluh. Niscaya lahir generasi tangguh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar